Harus apa?
Harus bagaimana?
Lalu seketika diam
Berhamburan di dalam bayang
Semu memang
Abu abu remang
Seperti terkikis karang
Aku bertanya...
Tapi tak menemukan jawaban
Lalu seperti apa kah sebenarnya?
Aku tak mengerti
Peluh relung ini kian berbuih
Hendak bersembur menjadi sebuah tangisan pilu
Sungguh tak dewasa!
Kau bilang begitu, selalu
Tapi Tuhan lebih tahu
Hidupku yg kian kelabu
Yang takut menyeberangi senja kala itu
Hidupku ragu
Dan terus begitu
Ayah, Ibu..
Andai aku tak dilahirkan
Apa aku akan sememalukan ini?
Apa aku akan menangisi diri ini?
Kau tak mengajari,
Hanyalah aku yang mengabdi
Lembayu senja matahari
Yang kulewati dengan patah hati
Aku hanya dapat menanti..
Dari pagi sampai pagi..
Hingga aku mati..
Harus bagaimana?
Lalu seketika diam
Berhamburan di dalam bayang
Semu memang
Abu abu remang
Seperti terkikis karang
Aku bertanya...
Tapi tak menemukan jawaban
Lalu seperti apa kah sebenarnya?
Aku tak mengerti
Peluh relung ini kian berbuih
Hendak bersembur menjadi sebuah tangisan pilu
Sungguh tak dewasa!
Kau bilang begitu, selalu
Tapi Tuhan lebih tahu
Hidupku yg kian kelabu
Yang takut menyeberangi senja kala itu
Hidupku ragu
Dan terus begitu
Ayah, Ibu..
Andai aku tak dilahirkan
Apa aku akan sememalukan ini?
Apa aku akan menangisi diri ini?
Kau tak mengajari,
Hanyalah aku yang mengabdi
Lembayu senja matahari
Yang kulewati dengan patah hati
Aku hanya dapat menanti..
Dari pagi sampai pagi..
Hingga aku mati..